Episode 1 “Anti Korupsi” SDS Nurani Insani Petamburan

on .

Oleh: Thika herlani (volunteer)

Kepedulian memiliki beragam cara untuk disalurkan, memfasilitasi pendidikan adalah satu di antaranya. Pendidikan untuk anak-anak merupakan kebutuhan yang harus diberikan sejak dini, mulai  dari yang formal hingga non-formal. Dengan pendidikan, anak-anak diharapkan akan memahami dan mengetahui bagaimana cara memilih dan menjalani pilihannya di masa depan. Kepedulian dan pendidikan merupakan benang merah yang menghantarkan saya pada Youth’s Act For Indonesia.

Jemu akan rutinitas dan rindu bersosialisasi-yang-tidak-biasa, membuat saya mencari wadah yang sekiranya dapat membantu saya menemukan apa yang saya inginkan. Melalui salah satu media sosial, saya menemukan YAFI (Youth’s Act For Indonesia). YAFI merupakan sekumpulan muda-mudi yang bertindak sebagai pengajar lepas, memberikan edukasi dengan cara-cara kreatif, membantu adik-adik sekolah dasar terpilih untuk belajar lebih mengenal dunia, di luar pendidikan formal mereka.

Pembelajaran dilakukan sambil bermain, suasana yang hangat dan ceria dibangun oleh kakak-kakak YAFI untuk memotivasi adik-adik  supaya lebih berani dan semangat dalam menerima informasi baru yang diberikan. Di titik ini saya belajar dari YAFI, bahwa motivasi dan apresiasi sangatlah penting untuk membangun keberanian dan rasa percaya diri seorang anak. Selain itu, kakak-kakak YAFI juga menggunakan dongeng sebagai sarana belajar mereka. Cerita yang diberikan sangatlah sederhana, berhubungan dengan keseharian adik-adik, tapi banyak pesan moral yang terdapat di dalam cerita dongeng yang di antaranya adalah kejujuran, keberanian, kepatuhan, ketulusan dan sebagainya. Membangun sikap anti korupsi pada pola pikir adik-adik adalah tujuan utama dari kakak-kakak YAFI. Adik-adik diharapkan dapat mengaplikasikan pesan-pesan tersebut di kehidupan nyata mereka.

Pembelajaran juga saya dapatkan dari adik-adik sekolah dasar ini. Kepolosan dan ketulusan mereka mengingatkan saya bahwa oret dan oceh tak beraturan juga mampu mendatangkan gelak tawa. Pada umumnya anak-anak lebih mudah merasa bahagia dibandingkan orang dewasa, bahkan karna remah-remah roti sekalipun. Saya sebagai orang yang sedang beranjak dewasa mulai memahami bagaimana sulitnya tertawa lepas di kehidupan nyata. Mereka dengan mudahnya mengingatkan saya bahwa untuk menjadi “ringan”, yang perlu dilakukan hanyalah “membuka”. 

 

 

YAFI dan adik-adik memberikan pengalaman yang luar biasa, bahkan hanya dalam hitungan jam. Menurut saya kegiatan ini tidak cocok disebut belajar-mengajar, kegiatan ini lebih cocok jika disebut bersenang-senang. Saya tak perlu lagi bernostalgia ketika jemu, karna di hari sabtu (di waktu yang telah ditentukan) saya punya pilihan untuk ceria bersama YAFI dan adik-adik sekolah dasar! :D