#KamiBerbakti3 Mempersiapkan Masa Pubertas - MI I'anatul Fallah Pancoran

on .

Sabtu, 26 april 2014. Dua ruang kelas MI I'anatul Fallah Pancoran disulap menjadi satu ruangan untuk seminar pendidikan kesehatan reproduksi anak yang ditujukan bagi orang tua dan guru. Orang tua murid bahkan sudah datang setengah jam sebelum acara dimulai. Mi I'anatul Fallah Pancoran merupakan sekolah kedua setelah SDI Tambora, Jakarta Barat dalam rangkaian seminar di program #KamiBerbakti batch 3 dengan tema pendidikan kesehatan reproduksi anak yang diselenggarakan oleh Youth's Act For Indonesia.

Pukul sembilan pagi acara dimulai dan dibuka dengan sambutan dari ibu Diana selaku Kepala Sekolah. 

Mempersiapkan masa pubertas anak bagi orang tua dan guru adalah hal yang penting dilakukan agar anak tidak salah mendapatkan informasi. Narasumber yang hadir kali ini adalah dua orang psikolog yaitu kak Virna Harianja. M. Psi, dan kak Siti Muawanah, M.Psi. Sebelum ke materi, para orang tua dan guru diajak untuk bermain games sederhana sebagai pencair suasana agar lebih rileks dan bersemangat.

Kak Nana kemudian melanjutkan ke dalam topik pembahasan mengenai pubertas.

"Apa yang terbersit ketika kita mendengar kata pubertas bapak, ibu?" ujarnya.

"Suaranya berubah, Salah tingkah, Menjadi lebih sensitif, Genit" Jawab orang tua yang hadir. 

Membahas pubertas pada anak perempuan dan pada anak laki-laki tentunya berbeda. Karenanya, peran orang tua begitu penting untuk memperkenalkan pada anak mengenai pendidikan seksualitas sesuai tahap perkembangannya. Selain perubahan fisik, ada perubahan psikologis pada anak saat pubertas. Semangat yang menjadi lebih tinggi dari biasanya, emosi tidak stabil, dan juga jatuh cinta.

Pendidikan seksualitas untuk anak bukan berarti memberikan pengetahuan untuk berhubungan seksual. Pendidikan seksualitas berarti pemberian informasi yang benar pada anak sesuai tahap perkembangannya. Anak-anak perlu siap dulu sebelum mengalami pubertas. Karena hal ini adalah proses bukan pembelajaran sehari. Anak-anak perlu pendampingan orang tua agar anak-anak mendapat informasi hanya dari orang tuanya sebagai sumber informasi utama bagi anak.

Anak-anak sejak kecil perlu diperkenalkan nama alat kelamin mereka, penis adalah alat kelamin laki-laki dan vagina adalah alat kelamin perempuan. Anak-anak juga perlu diajarkan untuk menjaga kebersihan alat kelamin mereka

Kak virna kemudian menjelaskan mengenai pentingnya orang tua agar anak mengenal sentuhan baik dan sentuhan tidak baik. Anak-anak harus sadar bahwa tubuhnya adalah miliknya. 

Kak virna memberi contoh sehari-hari, misal di lingkungan sekolah ada penjual jajanan, penjual mainan yang melakukan sentuhan di bagian-bagian privat anak atau memeluk anak dan membuat anak tidak nyaman, orang tua perlu curiga, cek dahulu kemudian orang tua bisa melapor ke guru di sekolah. 

Selalu dampingi anak, bangun kedekatan dan komunikasi yang baik dengan anak. Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah berbicara pada anak, misal sedang duduk berdampingan dengan anak saat menonton film kartun lalu ada iklan dimana anak melihat ada film tentang pacaran, tanyakan pada anak "menurut kakak atau menurut adik pacaran itu apa sih?" cari tahu sejauh mana pengetahuan anak lalu berikan penjelasan sesuai usia dan tahap perkembangan anak.

"Karena  sebenarnya, apa yang dipikirkan anak tidak seperti apa yang ada di bayangan kita." 

Orang tua dan guru pun antusias bertanya perihal perkembangan anaknya, pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana mengetahui anak apakah ia sudah mengalami pubertas, bagaimana memisahkan anak yang masih selalu ingin tidur dengan orang tuanya dan juga bagaimana bagi seorang kakak yang jenis kelaminnya berbeda untuk memberikan perlindungan terhadap adiknya.

"Komitmen orang tua diperlukan dalam hal ini" ujar kak virna ketika menjawab pertanyaan dari orang tua. Bicara pada anak adalah hal pertama yang bisa dilakukan. Misal ada anak yang masih tidak mau untuk tidur sendiri. Ajak anak untuk bercerita, beri kepercayaan pada anak, ia harus berani tidur sendiri, karena tidur berpengaruh pada kemandirian. Memberi pengertian pada anak agar tidak selalu 'nempel' dengan orang tuanya penting untuk dilakukan, agar anak saat beranjak dewasa ketika ia menghadapi lingkungan baru, anak lebih mudah beradaptasi. Kemudian kakak juga bisa memberikan perlindungan pada adiknya dengan mengenal siapa teman-teman bermainnya, ajak bercerita, ajak teman sang adik untuk main ke rumah. Begitu juga dengan orang tua perlu tahu siapa teman-teman anaknya dan juga bagaimana pergaulannya.

Rangkaian seminar untuk orang tua dan guru membahas kesehatan reproduksi anak yang sudah dilaksanakan di dua sekolah asuh YAFI ini diharapkan dapat mengembalikan peranan orang tua sebagai sumber informasi utama anak dan juga dapat membangun komunikasi yang baik antara orang tua dengan anaknya. Satu bulan setelah kegiatan ini pun akan ada evaluasi dimana orang tua ataupun guru bisa bertanya hal-hal yang ingin ditanyakan seputar perkembangan anak. 

Anak berhak merasa terlindungi dan nyaman berada di lingkungannya. Karenanya, kita semua berperan di dalamnya.

Kak virna, kak nana, kepala sekolah dan guru-guru MI I'anatul Fallah Pancoran

Kak virna, kak nana, ibu kepala sekolah dan main team YAFI