#KamiBerbakti3 Mempersiapkan Masa Pubertas – SDI Tambora

on .

Sabtu, 19 april 2014. Kami berbakti 3 dengan tema pendidikan kesehatan reproduksi anak akhirnya terlaksana setelah mempersiapkan kurang lebih satu tahun untuk mencari narasumber yang tepat dan juga mencocokkan dengan jadwal sekolah. Rangkaian seminar yang ditujukan untuk orang tua dan guru ini dimulai dari SDI Tambora Jakarta Barat.

Sejak akhir tahun 2011, kami mengenal perilaku adik-adik asuh YAFI di SDI Tambora, kami merasa, penting bagi orang tua dan guru untuk mempersiapkan masa pubertas anak sedini mungkin. Hal ini juga sebagai upaya untuk membuka pintu komunikasi antara orang tua dan anak.

Narasumber yang hadir adalah dua orang psikolog, Firesta Farizal, M.Psi,. yang biasa dipanggil kak etha dan Arafani Saezarina, M.Psi,. yang biasa dipanggil kak fani. Dalam seminar ini orang tua dan guru diberikan penjelasan mengenai pubertas dan apa yang harus disiapkan oleh orang tua maupun guru.

Seminar pendidikan kesehatan reproduksi untuk orang tua dan guru bertempat di Masjid tambora

Kak Fani

Kak etha

Banyak orang tua yang bingung dengan perubahan anak tetapi enggan membicarakannya dengan sang anak. Padahal perubahan yang dialami oleh anak merupakan hal yang wajar di masa pubertas, dan sebagai orang tua memberikan pendidikan seksualitas sangat penting.

Mengapa pendidikan seksualitas menjadi perlu?

“Karena diluar sana banyak informasi yang “sesat” yang bisa dengan mudah didapat oleh anak, rasa penasaran anak akan membuatnya mencari tahu dan jika orang tua tidak peduli bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti pelecehan atau bahkan kehamilan dini.” Ujar kak fani

Karena itu peran orang tua (yang sama jenis kelaminnya dengan anak), kakak (yang sama jenis kelaminnya dengan anak) juga guru (membantu saat memberikan pengarahan dan perlindungan selama di sekolah) begitu penting untuk memberikan pendidikan seksualitas secara bertahap sesuai perkembangan anak.

Penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak untuk menjaga area privatnya dan juga menghormati area privat orang lain, kak etha memberi perumpaan semisal saat bermain, anak mendorong temannya tapi dengan menyentuh pantat atau area privat lain. Orang tua atau guru di sekolah perlu mengajarkan anak untuk tidak boleh menyentuh bagian-bagian privat kecuali orangtua atau dokter saat dibutuhkan. Sehingga anak tahu bahwa tubuhnya adalah miliknya. Apapun yang membuat anak merasa tidak nyaman, harus dihentikan.

Beberapa dari orang tua kemudian mengajukan banyak pertanyaan perihal perkembangan anaknya, bagaimana cara memulai komunikasi dengan anak yang cenderung pendiam, bagaimana melindungi anak dari ketagihan internet dimana anak bisa mengakses konten pronografi, hingga pertanyaan mengenai mendisiplinkan anak.

Memulai komunikasi dengan anak bisa dengan membiasakan cerita dari orang tua sendiri dan menghindari mengulang pertanyaan yang sama setiap hari seperti “ada pr ga?”, karena anak-anak kadang bosan dengan pertanyaan yang sama. Melakukan aktifitas bersama dan diskusi dengan tidak memarahi bisa membuat anak nyaman untuk bercerita dengan orang tua.

Orang tua harus menjadi sumber ilmu utama bagi anak, jika anak terbiasa mengungkapkan pendapatnya lalu orang tua juga menghargai pendapat anak. Sang anak tentu akan terbiasa dan nyaman bercerita pada orang tua. Hal ini juga akan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada anak.