Episode 1 - "Aku dan Lingkunganku" MI I’anatul Falah

on .

Dengan semangat berdegup, melihat jam weker di ponsel yang menunjukkan pukul 05.15 WIB. Merasa inilah saat terbaik untuk mempersiapkan diri dan akan menyusuri pagi pada lengangnya jalan menuju wilayah Pancoran, Jakarta Selatan.

 
Hari ini episode perdana #KamiBerbakti batch 2 di dua sekolah. Salah satunya adalah MI I’anatul Falah di Pancoran, Jakarta Selatan. Pukul 07.00 WIB. Berkumpul dengan teman-teman volunteer yang sudah menunggu disana sambil bercerita tentang apa saja dan masih menunggu teman yang lainnya.
 
Kami melakukan persiapan agar semua teman-teman yang ikut dapat memahami keseluruhan konten acara pada hari ini. Kami juga membawa perlengkapan seperti empat buah kotak sampah, sebuah poster bergambar tentang daur ulang sampah, plastik, ATK dan materi pelajaran.
 
Ketika pukul 07.55 WIB kami sudah siap untuk mendatangi sekolah, dimana kami akan mengabdi sampai semester ganjil ini berakhir. Nama sekolah ini Madrasah Ibtidaiyah I’anatul Falah. Berlokasi di sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan motor atau sepeda saja. Ruang kelas yang berukuran sempit, dimana di dalamnya terdapat banyak meja serta kursi dan lemari setinggi 2 meter yang dianggap sebagai ‘perpustakaan’. Seringkali adik-adik ini merasa gerah dan sesak karena terlalu banyaknya orang yang berada di dalam kelas, sehingga membuatnya lebih memilih untuk menghirup sedikit udara yang lebih segar di luar kelas. Tapi, mereka masih semangat sekolah. Mereka berprestasi baik.
Sekolah mungil dengan warna cat hijau dan merah muda ini kedatangan 11 orang kakak-kakak yang akan membantu adik-adik belajar, mendengarkan celotehan ceritanya, menginspirasinya dengan segudang kisah, mengukir cerita baru lainnya dengan bahagia. Kami bermain tanpa memikirkan beban, kami belajar tanpa memikirkan resiko dan kami saling mengungkapkan tanpa memikirkan rahasia
Sabtu pagi ini dimulai dengan berkenalan antara kakak-kakak dan adik-adik, dengan menyebutkan nama serta mengilustrasikan kegemarannya dengan gerakan tanpa diucapkan. Adik-adik dibagikan name tag untuk mempermudah mengingat nama mereka. Kemudian, kami menjelaskan kepada adik-adik bahwa hari ini kita akan belajar tentang lingkungan. Bagaimana cara memisahkan sampah sesuai kategori kotak sampahnya dan memahami sampah apa saja yang dapat didaur ulang maupun tidak.
 
Pertama-tama, kami menjelaskan isi poster yang berisikan alur daur ulang, dan contoh-contoh sampah. Kemudian, membagikan kertas berukuran 4×4 cm yang berisikan gambar sebuah benda lengkap dengan nama benda tersebut dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Adik-adik diminta untuk memasukkan kertas tersebut sesuai dengan 2 kotak sampah yang telah tersedia. Misalnya jika pada kertas tersebut terdapat gambar pagar (fence), maka adik harus memasukkan ke kotak sampah non-organik. Sesi selanjutnya kami lakukan dengan mempraktikkan hal tersebut di gang sekitar sekolah, agar adik-adik tidak bosan. Mereka harus memungut sampah dan memilahnya ke dua kotak sampah yang tersedia. Hasilnya, mereka cukup semangat. Daerah gang sekolah pun terlihat bersih. Kegiatan ini pun mengurangi pekerjaan penduduk sekitar.
 
 
Setelah dirasa keadaan sekolah sudah sudah cukup bersih, kami melakukan kegiatan cuci tangan yang benar. Secara kebetulan, kami memiliki mahasiswa yang berasal dari program studi keperawatan. Sehingga, ia bisa memberikan contoh cuci tangan yang benar.
 
 
Akhirnya, acara hari ini pun ditutup dengan review dari beberapa adik-adik yang berani maju ke depan dan kakak-kakak membagikan penghargaan berbentuk bintang kepada adik-adik, yang nantinya bintang-bintang tersebut akan dikumpulkan, dijumlahkan lalu ditukarkan dengan hadiah yang akan kami siapkan di akhir episode #KamiBerbakti batch 2.
 
Untuk mempermudah pendataan, maka kami meminta adik-adik mengisi formulir dengan pertanyaan yang mudah dimengerti. Namun, ada satu pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan sebagai jawaban. “Nama Orang Tua”, untuk sebagian murid ini merupakan pertanyaan yang dapat dijawab dengan mudah. Akan tetapi, apakah itu berlaku sama untuk murid lainnya? Belum tentu. Ada salah satu orang adik, “Kak, nama orang tua diisi nama siapa? Aku aja gak tau mereka, apalagi namanya.”  Kedua bola matanya sayup-sayup.
 
“Gak perlu diisi kok, nanti aku bilangin ke semua teman kamu, mereka gak perlu menuliskan nama orang tuanya.” Ujar kak bia, agar semakin tidak membuatnya sedih.
 
“Saya mengapresiasi mereka, walau telah 11 tahun lamanya ia dilahirkan di dunia, dan bahkan ia tidak pernah bertatap muka dengan perempuan yang melahirkannya. Ia tetap bisa tertawa” Ujar kak bia berbagi pengalamannya bersama adik-adik di MI I’anatul Falah.
 
Beginilah realita ibukota, realita sehari-hari yang dijumpai, realita yang digampangkan oleh semua pihak. Mencekik, menelantarkan dan menghilangkan sebuah peran. Setidaknya, Jakarta pada pagi hari ini masih berbaik hati. Mengirimkan, mengikhlaskan dan  mempertemukan kami denganadik-adik Madrasah Ibtidaiyah I’anatul Falah juga adik-adik SDS Nurani Insani Petamburan dalam sebuah tempat yang sedang mempersiapkan ‘mesin’ untuk berjalan maju demi sebuah perubahan. Semoga kalian merasa senang, adik-adikku. Kalian bukan hanya orang-orang yang bisa kami ajarkan, namun kalian jugalah yang dengan segenap ketulusan hati tanpa disadari telah mengajarkan banyak hal kepada kami.