Episode 3 : "Melangkah Bersama"

on .


Kita bisa melangkah bersama, menggapai cita-cita, dan sukses bersama.Karena sukses bukan hanya milik seorang individu, namun juga milik bersama.

 

Di episode 3 #KamiBerbakti kali ini kami fokus pada bimbingan fun pelajaran matematika yang kerap menjadi kendala dan “momok” bagi adik-adik SD Tambora. Adik-adik dibentuk dalam beberapa kelompok belajar dan didampingi oleh kakak-kakak pendamping. Adik-adik yang mengikuti episode kali ini adalah adik-adik kelas 4 dan kelas 5 SD Tambora.

Pembagian level kelompok belajar telah kami tentukan berdasarkan hasil evaluasi di Episode 2. Adik-adik yang memang kurang dalam pengajaran matematika kami kelompokkan dalam kelompok tersendiri dan mendapatkan bimbingan yang lebih intensive dengan kakak-kakak pendamping.

Kemauan adik-adik SD Tambora sungguh luar biasa dalam mengikuti bimbingan matematikafun ini. Seperti diungkapkan salah seorang kakak pendamping bernama Tyas Gusti Harta yang berkesempatan untuk menjadi kakak pembimbing di episode 3 kali ini. Tyas mengungkapkan bahwa adik-adik SD Tambora memiliki potensi dan kemauan yang sangat besar dalam mengikuti setiap rangkaian kegiatan YAFI. Namun, kendala utama yang mereka hadapi adalah keterbatasan perlengkapan terutama berupa buku-buku penunjang pelajaran yang menyebabkan mereka sulit untuk mengikuti pelajaran karena hanya berpegang hanya pada LKS (Lembar Kerja Sekolah). Sehingga sebagian besar dari mereka mengalami kesulitan dalam pelajaran matematika.

“Saya terharu melihat semangat belajar mereka ditengah keterbatasan yang mereka miliki, walau hanya sedikit ilmu yang mungkin bisa saya bagi namun semoga ini bermanfaat untuk mereka” ujar Tyas.

Ditengah semangat adik-adik SD Tambora yang begitu besar, banyak hal-hal tak terduga yang ditemukan selama bimbingan. Kami banyak menemukan adik-adik yang kurang lancar dalam berhitung dan sangat kesulitan untuk menyelesaikan satu soal sederhana. Keadaan ini semakin membuat kami prihatin karena adik-adik yang kami bimbing adalah mereka yang tengah menempuh kelas 4 dan 5 SD yang sebentar lagi akan naik ke kelas 6 dan menghadapi Ujian Nasional. Hal ini seperti diungkapkan Benardi Okta selaku wakil ketua YAFI yang juga berkesempatan menjadi kakak pendamping di episode 3 kali ini bahwa dirinya seakan ditampar dengan kenyataan yang ia lihat ketika berbaur dengan adik-adik SD Tambora. Ketertinggalan SD Tambora yang berada di kota Jakarta membuat Benardi dan tim YAFI yang lain cukup miris karena masih menemukan sebuah SD yang berada di sudut kota Jakarta dan bukan di daerah pedalaman bisa sampai tertinggal seperti itu.

“Saat saya memberikan beberapa soal matematika yang menurut saya cukup sederhana dan standar untuk kelas 4 dan 5 SD, namun diluar dugaan mereka tidak bisa menyelesaikan soal tersebut” ungkap Benardi.

Namun, hal ini otomatis semakin membuat kami lebih tertantang untuk gencar memberikan bimbingan bagi adik-adik SD Tambora. Terlebih semangat mereka yang tinggi untuk terus belajar membuat kami semakin terpacu juga untuk memberikan bimbingan lebih gencar demi pendidikan mereka yang lebih baik.

 

Saat sesi bimbingan kelompok, terlihat dengan jelas bahwa sebagian besar adik-adik SD Tambora ternyata masih menggunakan cara lama yang cukup merepotkan untuk berhitung yaitu dengan membuat garis-garis dan coretan untuk hanya memecahkan suatu soal penjumlahan dan pengurangan sederhana. Hal ini membuat salah seorang kakak pendamping dari tim YAFI bernama Rachmat Prasetyo atau yang akrab dipanggil mamet memberikan bimbingan dengan cara yang cukup unik yaitu dengan menggunakan pikiran dan ucapan. Secara sederhana penjelasan tentang cara ini yaitu dengan mendikte dan melatih imajinasi adik-adik dengan memikirkan salah satu angka dalam soal kemudian nantinya akan dikalkulasi dengan angka selanjutnya yang telah diucapkan.

Kakak Mamet sedang memberikan bimbingan matematika fun.

Gue miris ngeliat cara mereka berhitung yang cukup merepotkan dan bikin lama buat menghitung, jadi gue coba bimbing adik-adik tambora pake cara yang lebih simpel, fun, dan cepat, jauh dari resiko kesalahan agar mereka juga lebih senang berhitung” ujar Mamet.

Matematika yang kerap menjadi momok bagi adik-adik SD Tambora menjadikan pelajaran ini seakan dijauhi dan dimusuhi oleh mereka. Lanjut Mamet, dia mencoba mengubah mindsetadik-adik SD Tambora yang awalnya menjadikan matematika sebagai musuh berubah menjadi sesuatu yang mereka senangi dengan metode-metode belajar berhitung yang fun.

Pada soal sederhana seperti penjumlahan dan pengurangan banyak yang masih bingung dalam hal penyusunan bilangannya. Salah seorang kakak pendamping dari tim YAFI bernama Ayu Setyani menyatakan bahwa hal yang kerap ditemui saat bimbingan adalah ketidaktelitian adik-adik SD Tambora dalam menyelesaikan suatu soal, terburu-buru atau bahkan ada yang sangat pelan-pelan dan aga lambat dalam mengerjakan suatu soal.

“Banyak dari mereka masih bingung jika berhitung dengan ditulis di kertas terutama dalam hal penempatan angkanya. Penjumlahan, pengurangan, perkalian bahkan pembagian dengan metode kurung juga sangat sulit. Bahkan saat diberikan soal mengenai tahun dan bulan ada beberapa dari mereka yang tidak hafal nama-nama bulan” ujar Ayu.

Namun, tidak semua adik-adik memiliki kemampuan kurang dalam hal berhitung. Ada beberapa adik-adik yang cukup memiliki kemampuan lebih dalam berhitung. Hal ini seperti diungkapkan Ayu bahwa ada salah seorang anak kelas 5 SD yang sudah bisa menjawab dan menyelesaikan soal penjumlahan dengan nominal ratusan dan ribuan dengna cepat dan tanpa corat-coret.

Dibalik semua keterbataan yang mereka miliki terdapat potensi dan minat belajar yang luar biasa dari diri mereka. Saat kakak-kakak pembimbing memberikan soal berkali-kali walaupun dengan bimbingan yang ekstra dan waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikan suatu soal namun adik-adik SD Tambora sangat antusias untuk menyelesaikan setiap soal yang diberikan berkali-kali. Metode dan cara belajar yang menyenangkan serta kesabaran kakak-kakak pembimbing dalam membimbing adik-adik SD Tambora yang nampaknya menjadi salah satu alasan mereka bersemangat dan senang untuk terus mengikuti bimbingan ini.

Kakak-kakak pendamping membimbing mereka penuh sabar dan memberikan motivasi bahwa mereka semua itu pintar mereka dan dapat menggapai cita-cita mereka. Pelajaran matematika dapat dilakukan secara bertahap dengan dilakukan latihan secara terus menerus. Gapai cita-cita, Jangan pernah putus asa. Kita bisa melangkah bersama. Tetap semangat adik-adikku!

“Semoga kedepan Program #KamiBerbakti YAFI bisa lebih baik, kreatif dan memiliki tujuan-tujuan serta pencapaian yang jelas disetiap episodenya untuk membantu adik-adik SD Tambora ini. Saya yakin bahwa program ini sangat bermanfaat dalam membantu dan menginspirasi adik-adik SD Tambora karena pendidikan adalah salah satu cara untuk menyelamatkan mereka” ujar Benardi.

SEMANGAT MENGINSPIRASI.:)